PENGAJIAN KEBANGSAAN

Karl Marx menganggap negara adalah setan yang selalu jahat,  Hegel menganggap negara sebagai roh absolut yang tidak salah. Bagaimana dengan Islam?

Islam memandang negara tak ubahnya semacam badan, jasad, atau raga yang berskala makro bagi jiwa kolektif manusia. Seperti raga, atau jasad manusia perorangan, di dalam badan besar negara juga terdapat nafsu yang menurut Al Quran bersifat ammaratun bissu', tend to corrupt.

Maka, sikap dasar Islam terhadap negara, bukan membenci atau mengingkari, tapi mendukung sambil mengkritisi. Tugas keagamaan kita adalah mengembalikan spirit/roh itu pada jasadnya.

Mempertentangkan Islam dan nasionalisme merupakan sesuatu yang ahistoris. Sejarah membuktikan, kegigihan para Ulama terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Itu semua karena jiwa patriotisme, nasionalisme yang tertanam dalam diri para ulama, santri, dan seluruh umat Islam di Indonesia.

Rasulullah sendiri merumuskan piagam madinah, dimana didalamnya terdiri dari berbagai suku, agama, ras yang berbeda akan tetapi semuanya hidup rukun, tentram dan damai. Tidak ada yang merasa terancam. Karena disitulah sejatinya Islam hadir dimuka bumi ini sebagai Rahmatan lil ‘alamiin.

#BERSAMA SYEKH MUHAMMAD BIN ABDULLAH ALJUNAID YAMAN DAN KAPOLDA JAWA TENGAH