Refleksi Tahun Baru 1439 H
Oleh : KH. Sofyan Hadi, Lc, MA

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)

siapakah yang dimaksud dalam ayat tersebut?

Dia adalah Suhaib bin Sinan ar-Rumi. Seorang sahabat senior Rasulullah yang mungkin tidak dikenal oleh banyak kaum muslimin. Ia memang bukan penduduk asli Mekah, ia adalah
anak seorang hakim di wilayah Bashrah. Saat orang-orang Romawi menyerang daerah tersebut, Suhaib pun menjadi seorang budak Romawi. Ia tumbuh besar di wilayah Romawi tersebut, karena itulah ia dipanggil Suhaib ar-Rumi.

Kisahnya mirip nabi Yusuf. Seseorang menjualnya kepada orang kaya di Mekah, Abdullah bin Jad’an. Tidak lama, Suhaib memperlihatkan kualitas diri yang menunjukkan dia tidak layak menjadi seorang budak. Ia memiliki kecerdasan, etos kerja yang tinggi, dan ketulusan hati. Ia pun dibebaskan. Ia mulai berdagang dan menjadi salah seorang pedangang yang sukses di Mekah.

Ia termasuk as-sabiquna-l awwalun (orang-orang yang pertama memeluk Islam). Saat jumlah kaum muslimin masih sekitar 30-an orang, Suhaib telah menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah.

Rasulullah bersabda,

السباق أربعة: أنا سابق العرب، وصهيب سابق الروم، وبلال سابق الحبشة، وسلمان سابق الفرس

“Empat orang pendahulu: Aku adalah yang paling awal dari kalangan Arab, Suhaib paling awal dari kalangan Romawi, Bilal paling awal dari orang-orang Habasyah, dan Salman yang paling awal dari orang Persia.”

Dari perjalanan hidup Suhaib, yang paling menggetarkan adalah kisah hijrahnya. Saat dalam perjalanan dari Mekah menuju Madinah, Suhaib dicegat oleh orang-orang Mekah. “Wahai Suhaib, engkau datang dalam keadaan miskin, kemudian hartamu menjadi banyak setelah tinggal di sini. Engkau boleh pergi, tapi tidak dengan semua hartamu.” Suhaib pun meninggalkan hartanya tanpa ia pedulikan sedikit pun. Berjalan kaki sendirian menyusul Rasulullah yang sudah berada di Quba'.

Ketika mendengar salam dari Suhaib, Nabi langsung berseru gembira, “Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya, beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya”.
ربح البيع أبا يحيى.. ربح البيع أبا يحيى

Suhaib berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang melihat apa yang kualami.” Nabi menjawab, “Jibril yang memberi tahuku.”

Lalu turunlah surat al-Baqarah ayat 207

Setelah hijrah, Suhaib menjadi pendamping setia Rasulullah. Ia dikenal berani dan andal menggunakan panah. Shuhaib pernah berkata, “Tidak ada peperangan yang dilakukan Rasulullah kecuali aku ada di sampingnya.Tidak pernah suatu perjanjian yang dibuat Rasulullah kecuali aku ada di sampingnya. Tidak pernah suatu angkatan perang yang disiapkan oleh Rasulullah untuk pergi bertempur kecuali aku ada di dalamnya. Tidak pernah terjadi sesuatu persiapan untuk mengirim bantuan yang aku tidak hadir di tempat itu.

Suhaib dikenal sebagai seorang sahabat yang sangat dermawan. Setelah Rasulullah wafat, Suhaib menyumbangkan baktinya kepada Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar bin Khaththab ketika keduanya menjadi khalifah. Ketika Umar ditikam dari belakang saat memimpin shalat Shubuh, Suhaib langsung ditunjuk sebagai pengganti imam.

Suhaib wafat di Kota Madinah tahun 38 H pada usia 70 tahun.

Semoga kita bisa meneladani kisah hidup Suhaib. Seorang yang berhijrah semata-mata karena Allah dan RasulNya.