Tipe Pesantren Salaf dan Pendidikan Formal Modern

Ponpes atau pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang bersistem asrama (Jawa: pondok). Di mana santri (pelajar) tinggal didalam asrama (hostel) selama masa belajar tanpa diijinkan untuk pulang ke rumahnya kecuali saat musim libur.

Pendidikan pesantren berlangsung 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Selain pendidikan khas pesantren, di dalamnya terdapat berbagai lembaga pendidikan yang sama seperti lembaga pendidikan di luar pesantren. Seperti, pendidikan formal TPQ, TK, SD/MI, SMP/MTS, MA/SMA/SMK, dan perguruan tinggi/universitas.

Di samping madrasah diniyah tentunya yang memang menjadi ciri khas sebuah pesantren, khususnya yang bersistem salaf.

Pondok Pesantren Al Muayyad Al Maliky (PPAM) Jati Kudus adalah kombinasi antara Lembaga Pendidikan Formal, Pesantren Tahfidz dan salafiyah. Apa maksudnya? Secara sederhana definisi pesantren Tahfidz dan salaf adalah sebuah pesantren yang menganut sistem tradisional di mana di dalamnya hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dan sama sekali tidak mengajarkan ilmu umum dan Santri Target dalam Gafalan Al Qur'an.

Sedangkan Pendidikan Formal adalah dimana yang di dalamnya menganut sistem pendidikan yang diadopsi dari sistem pendidikan modern dan materi yang dipelajari merupakan kombinasi antara ilmu agama dan ilmu umum. Ciri khasnya adalah penekanannya pada kemampuan bidang pendidikan umum. secara lisan sedangkan keunikan pesantren salaf adalah lebih menekankan pada kemampuan penguasaan kitab kuning.

PESANTREN SALAF

Pesanten Salaf adalah bentuk asli dari lembaga pesantren. Sejak pertama kali didirikan oleh Wali Songo, format pendidikan pesantren adalah bersistem salaf. Kata salaf berasal dari bahasa Arab السلف. Dari akar kata yang sama aAda beberapa makna dari kata ‘salaf’ yang berbeda-beda. Harap dibedakan antara pesantren salaf sebagai sebuah sistem penditikan dengan aliran salafi wahabi.


Pengertian kata Salaf

(a) Salaf dengan bentuk jamak aslaf (أَسْلُفٌ) dan suluf (سُلُوفٌ) bermakna kulit yang belum disamak atau samaknya tidak dianggap sah. Salaf bisa juga berarti wadah yang besar.

(b) Salif (سَلِف) dengan bentuk jamak aslaf (أَسْلافٌ) bermakna kulit; ipar; yang lalu; sedikit; perbandingan;

(c) Salaf (سَلَف) dengan bentuk jamak aslaf (أَسْلافٌ), sallaf (سُلاَّفٌ), suluf ( سُلُف ) bermakna setiap pendahulu yakni ayah, kakek, nenek moyang dan kerabat dalam segi usia dan keutamaan.

(d) Salaf adalah setiap amal saleh yang dilakukan di masa lalu; atau apa yang telah lalu dari harga barang yang dijual. Dalam jual beli atau muamalah salaf berarti hutang yang tidak ada manfaatnya pada muqradh fih

(e) Salaf soleh adalah ayah, kakek, nenek moyang yang dihormati.
(f) Salaf kholaf adalah generasi masa kini dan masa lalu.
(g) Madzhab Salaf adalah madzhabnya kalangan ulama terdahulu.


Kata Salaf dalam istilah Pesantren

Kata salaf dalam pengeritan pesantren di Indonesia dapat dipahami dalam makna literal dan sekaligus terminologis khas Indonesia. Secara literal, kata salaf dalam istilah pesantren adalah kuno, klasik dan tradisional sebagai kebalikan dari pondok modern, kholaf.atau ashriyah.

Secara terminologi sosiologis, pesantren salaf adalah sebuah pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama saja kepada para santri.  Atau, kalau ada ilmu umum, maka itu diajarkan dalam porsi yang sangat sedikit. Umumnya, ilmu agama yang diajarkan meliputi Al-Quran, hadits, fikih, akidah, akhlak, sejarah Islam, faraidh (ilmu waris Islam), ilmu falak, ilmu hisab, dan lain-lain.  Semua materi pelajaran yang dikaji memakai buku berbahasa Arab yang umum disebut dengan kitab kuning, kitab gundul, kitab klasik atau kitab turots.

Metode Belajar Mengajar

Metode belajar mengajar di pesantren salaf terbagi menjadi dua yaitu metode sorogan wetonan dan metode klasikal. Metode sorogan adalah sistem belajar mengajar di mana santri membaca kitab yang dikaji di depan ustadz atau kyai. Sedangkan sistem weton adalah kyai membaca kitab yang dikaji sedang santri menyimak, mendengarkan dan memberi makna pada kitab tersebut. Metode sorogan dan wethonan merupakan metode klasik dan paling tradisional yang ada sejak pertama kali lembaga pesantren didirikan dan masih tetap eksis dan dipakai sampai saat ini.

Adapun metode klasikal adalah metode sistem kelas yang tidak berbeda dengan sistem modern. Hanya saja bidang studi yang diajarkan mayoritas adalah keilmuan agama.


Ciri Khas Kultural  dan Administratif

Ciri khas kultural yang terdapat dalam pesantren salaf yang tidak terdapat dalam pondok modern antara lain:

Santri lebih hormat dan santun kepada kyai, guru dan seniornya.

Santri senior tidak melakukan tindak kekerasan pada yuniornya. Hukuman atau sanksi yang dilakukan biasanya bersifat non-fisikal seperti dihukum mengaji atau menyapu atau mengepel, dll.

Dalam keseharian memakai sarung.

Berafiliasi kultural ke Nahdlatul Ulama (NU) dengan ciri khas  seperti fikih bermadzhab Syafi’i, akidah tauhid Asy’ariyah Maturidiyah, tarawih 20 rakaat plus 3 rokaat witir pada bulan Ramadan, baca qunut pada shalat Subuh, membaca tahlil pada tiap malam Jum’at, peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj.

Sistem penerimaan tanpa seleksi. Setiap santri yang masuk langsung diterima. Sedangkan penempatan kelas sesuai dengan kemampuan dasar ilmu agama yang dimiliki sebelumnya.

Biaya masuk pesantren salaf umumnya jauh lebih murah dan itdak ada daftar ulang setiap tahunnya. Infrastruktur lebih sederhana.
Ciri Khas Kualitas Keilmuan
Santri pesantren salaf memiliki kualitas keilmuan yang berbeda dengan santri pondok modern antara lain sebagai berikut:

Menguasai kitab kuning atau literatur klasik Islam dalam bahasa Arab dalam berbagai disiplin ilmu agama.

Menguasai ilmu gramatika bahasa Arab atau Nahwu, Sharaf, balaghah (maany, bayan, badi’), dan mantiq secara mendalam karena ilmu-ilmu tersebut dipelajari serius dan menempati porsi cukup besar dalam kurikulum pesantren salaf di samping fikih madzhab Syafi’i.

Dalam memahami kitab bahasa Arab santri salaf memakai sistem makna gandul dan makna terjemahan bebas sekaligus.

Yang dimaksud ponpes salaf murni adalah pesantren yang kurikulumnya murni mengajarkan bidang studi ilmu agama saja baik melalui sistem madrasah diniyah maupun pengajian sorogan, wetonan dan bandongan. Di ponpes salaf murni tidak ada pendidikan formalnya. Santri juga tidak boleh sekolah formal di luar pesantren namun dibolehkan mengikuti program WAJAR DIKDAS (Wajib Belajar Pendidikan Dasar) sistem Paket A (setara SD/MI), Paket B (setara SLTP) dan Paket C (setara SLTA). Pesantren salaf murni, disebut juga dengan salafiyah, memang bertujuan untuk mencetak ulama ahli agama. Saat ini.

Saat ini, umumnya pesantren yang dulunya salaf murni sudah beradaptasi dan mengkombinasikannya dengan sistem modern dalam arti ada pendidikan formal dan sistem pembelajaran bahasa Arab atau Inggris aktif di samping pendidikan kitab kuning. Beberapa pesantren kominasi ini ada yang berhasil tetap mempertahankan sistem salafnya yakni kemampuan membaca kitab kuning, namun tidak sedikit yang kalah sama sistem modernnya di mana santri hanya bisa berbicara bahasa Arab, tapi kesulitan memahami kitab gundul.