SMP & PKPPS QOLSABA AL MUAYYAD AL MALIKY JATI KUDUS
17 AGUSTUS 2025
Oleh : SYAIFUDDIN NAJIB, S.PD.I., M.PD
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim
Yang saya hormati,
Bapak/Ibu guru, ustaz/ustazah, dan staf lembaga SMP dan PKPPS Qolsaba Al Muayyad Al Maliky.
Para santri dan siswa-siswi yang saya banggakan.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala, karena dengan rahmat dan karunia-Nya, pagi ini kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal afiat untuk melaksanakan upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ , suri teladan umat, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Para santri yang saya hormati,
Tanggal 17 Agustus 2025 ini, bangsa Indonesia, dan tentu umat Islam Indonesia sebagai mayoritas bangsa, memperingati sekaligus mensyukuri hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-80 dengan mengusung tema: “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.”
Mensyukuri nikmat adalah kewajiban bagi setiap umat beragama. Puncak pengabdian kepada Allah adalah mengingat keagungan-Nya dan bersyukur atas karunia-Nya, terlebih karunia kemerdekaan, nikmat terbesar bagi keberlangsungan suatu bangsa. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 152:
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu ingkar kepada-Ku."
Anak-anaku hadirin sekalian,
Mengenang dan menghormati perjuangan pahlawan adalah cara terbaik untuk menghargai jasa mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Dengan mengenang perjuangan itu, kita memperkuat persatuan, kesadaran nasional, serta menumbuhkan nilai-nilai kepahlawanan: keberanian, ketangguhan, patriotisme, dan pengorbanan demi kebenaran dan keadilan.
Dalam ajaran Islam, para pendahulu dan pejuang ditempatkan pada derajat yang mulia, disertai anjuran mendoakan mereka. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 10:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata: 'Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian di hati kami terhadap orang-orang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'"
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Proklamator Bung Karno pernah berpesan: “Jas Merah — Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Pesan ini mengingatkan kita bahwa sejarah adalah guru kehidupan. Dari sejarah, kita belajar dari kesalahan masa lalu, menghargai pencapaian pendahulu, dan membangun masa depan dengan persatuan dan pengalaman.
Kita juga harus selalu ingat, kemerdekaan ini direbut dengan pengorbanan bangsa Indonesia sendiri. Kemerdekaan kita bukanlah hadiah dari penjajah, melainkan hasil perjuangan panjang penuh darah dan air mata.
Anak-anakku yang saya banggakan,
Nasionalisme dan cinta tanah air adalah pondasi bangsa. Nasionalisme meningkatkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap negeri ini, sedangkan cinta tanah air menumbuhkan patriotisme dan kesetiaan. Para ulama berkata:
حب الوطن من الإيمان
"Mencintai tanah air adalah sebagian dari iman."
Siapa yang mencintai tanah air akan menjaganya, merawatnya, dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi kemaslahatan bersama. Itulah tugas utama manusia sebagai khalifatullah fil-ardl, pemakmur bumi.
Pesan untuk santri dan pelajar Qolsaba:
Sebagai santri dan pelajar, cara kita mengisi kemerdekaan adalah dengan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, berdisiplin, menjaga akhlak, serta meneladani perjuangan para ulama dan pahlawan bangsa. Jangan malas belajar, jangan lalai ibadah, dan jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan. Ingatlah, kalian adalah generasi penerus yang akan memimpin Indonesia di masa depan.
Bapak/Ibu dan anak-anakku sekalian,
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hasil perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa, raga, dan harta demi tegaknya NKRI. Tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat, sesuai kemampuan dan bidang kita masing-masing.
Bagi para siswa dan santri, mengisi kemerdekaan berarti belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga akhlak, dan menanamkan rasa cinta tanah air. Ingatlah, masa depan bangsa ada di tangan generasi muda seperti kalian.
Pesan untuk Santri Zaman Sekarang:
1. Berilmu dan Berakhlak — Kuasai ilmu agama dan pengetahuan umum, agar kalian bisa menjawab tantangan zaman.
2. Cerdas Digital — Gunakan teknologi untuk kebaikan, bukan untuk hal sia-sia.
3. Berjiwa Nasionalis — Jaga persatuan dan kesatuan, serta bangga menjadi warga negara Indonesia.
4. Menjaga Tradisi dan Nilai Islam — Hormati guru, taati orang tua, dan pelihara adab santri.
5. Mandiri dan Tangguh — Jangan mudah menyerah, biasakan berusaha keras sebelum meminta bantuan, dan jadilah teladan di masyarakat.
Anak-anakku, jadilah santri yang bukan hanya pandai mengaji, tetapi juga mampu memberi solusi. Santri yang siap memimpin, bukan hanya mengikuti. Santri yang menjaga agama, sekaligus membangun bangsa.
Tanah air adalah modal asasi dalam mengisi kemerdekaan dan membangun peradaban. Mari kita wujudkan rasa cinta tanah air ini dengan belajar bersungguh-sungguh, menjaga persatuan, menaati aturan, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Hadirin sekalian,
Di usia ke-80 kemerdekaan ini, marilah kita perkuat tekad untuk menjaga warisan para pahlawan, mengisi kemerdekaan dengan prestasi, dan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih jaya.
Dirgahayu Republik Indonesia!
Merdeka!
Pantun penutup:
Pergi ke pasar membeli kelapa,
Kelapa dibelah isi dimakan.
Mari kita jaga Indonesia tercinta,
Agar merdeka sepanjang zaman.
Beli durian di pinggir jalan,
Manis rasanya luar biasa.
Mari kita teruskan perjuangan,
Untuk Indonesia jaya selamanya!
Dirgahayu Indonesia tercinta!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
0 Comments